Depan SDN Ciputat 1, Tangsel — Bau harum manis karamel berputar di udara sore itu, langsung menarik perhatian anak-anak yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Di sudut trotoar depan SDN Ciputat 1, Tangerang Selatan, tampak sebuah gerobak kecil yang dikerumuni pembeli. Mereka sedang mengantre demi menikmati selembar kebahagiaan sederhana bernama gulali.
Gulali adalah sejenis penganan yang dibuat dari pintalan gula yang dibakar terlebih dahulu. Teksturnya yang lembut seperti kapas dan rasanya yang manis langsung meleleh begitu menyentuh lidah. Meski terkesan sebagai jajanan lokal, gulali sebenarnya memiliki sejarah panjang. Penganan ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1904 oleh William Morrison dan John C. Wharton di ajang St. Louis World's Fair dengan nama awal "Fairy Floss" atau rambut peri.
Lebih dari seabad berlalu sejak pertama kali diciptakan di Amerika, pesona gulali tidak pernah pudar. Di depan SDN Ciputat 1, jajanan ini membuktikan dirinya sebagai kuliner lintas generasi yang tak pernah dimakan zaman. Pembelinya bukan cuma anak-anak SD yang gemar jajan sepulang sekolah, tetapi juga orang dewasa dan para orang tua yang sedang menjemput anak mereka.
"Sengaja beli buat anak, sekalian saya juga mau. Rasanya bikin kangen zaman sekolah dulu," ujar Rian (34), salah satu orang tua murid yang ikut mengantre. Bagi orang dewasa, gulali bukan sekadar camilan manis, melainkan sebuah mesin waktu yang membawa kembali memori masa kecil.
Di tengah gempuran camilan modern dan kekinian, gulali di depan SDN Ciputat 1 tetap bertahan dengan kesederhanaannya. Harganya yang ramah di kantong dan sensasi melihat proses pembuatannya secara langsung membuat pintalan gula manis ini selalu dinanti dan dicintai, dari generasi ke generasi.